Ke pantai…..

March 14, 2007

Hari sabtu yang lalu papa bilang ….. “enaknya hari ini kemana ya ?”….. trus papa ingat kalo aku sering minta di ajak ke pantai…. Renang, sekalian main pasir……eh…. Ternyata benar papa & mama ajak aku ke pantai…… kata mama “ya sudah kita ke Ancol aja yuk…….” Iyaaaa…. Aku ikuttttt… wah…. Aku langsung ngebayangin mau main pasir…. Bikin rumah pake pasir & renang….. ayo dong mah buruannn…

Akhirnya kita berangkat dari rumah jam 11 dan sampe di
sana jam 12:30 begitu sampe aku disuruh makan dulu sama mama……. “buruan dong ma, aku dah gak sabar nih”…..  trus kata papa “ayo Echa kalo mo renang harus ganti baju dulu ya…” gak lama kemudian byurr….. wuih…. Enakkk…. Ayo pa kesini temenin aku begitu papa udah deket aku siram pake air….. “aduh Echa…. Papa gak bawa baju ganti nih jgn disiram dong….” Tapi tetep aja aku siramin…. Eh papanya lari…….

Di
sana aku kenal sama teman baru namanya… Caca… dia sudah sekolah kelas 1 SD, Aku senang sekali jalan-jalan ke pantai, trus papa temenin aku lagi…. Sambil cari kepiting kecil yang ada di sela-sela batu…”aku ikut dong pa….. cariin kepiting” gak lama kemudian…” Aduhhhhh paaa tolongin aku ….kaki ku berdarah kena batu karang”, ternyata emang bener kakiku berdarah kena batu karang….. “ ya sudah sekarang Echa mandi & ganti baju ….. biar nanti lukanya diobatin ya…..”

Selesai mandi & baju kakiku dibersihin dan di tutup pakai handyplast…. Akhirnya jalanku jadi agak pincang deh…… trus aku diajak papa & mama ke dermaga…. Liat ombak, kapal laut. “wuiiihhh angin dan ombaknya kenceng banget……aku takut banget pa …..” kata papa “gak papa kok sini papa pegangin tangannya”. Dari dermaga kita main jungkit-jungkit, perosotan dan ayunan.

Karena hari sudah sore akhirnya aku pulang deh… sambil bawa oleh-oleh  kerang, karang dan pasir laut…. “yuk pa, ma, kita pulang dah sore nih……”

Mengeluh

February 28, 2007

Sebuah kata sederhana yang mungkin jarang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari, tetapi seringkali kita praktekkan langsung baik secara sadar maupun tidak sadar. Beberapa waktu lalu saya berkumpul dengan teman-teman lama saya. Seperti biasanya kami membicarakan mengenai pekerjaan, pasangan hidup, masa lalu, dan berbagai macam hal lainnya.

Setelah pulang saya baru tersadar, bahwa kami satu sama lain saling berlomba untuk memamerkan keluhan kami masing-masing seolah-olah siapa yang paling banyak mengeluh dialah yang paling hebat.
“Bos gue kelewatan masa udah jam 6 gue masih disuruh lembur, sekalian aja suruh gue nginep di kantor!”
“Kerjaan gue ditambahin melulu tiap hari, padahal itu kan bukan “job-des” gue” “Anak buah gue memang bego, disuruh apa-apa salah melulu”.

Kita semua melakukan hal tersebut setiap saat tanpa menyadarinya. Tahukah Anda semakin sering kita mengeluh, maka semakin sering pula kita mengalami hal tersebut. Sebagai contohnya, salah satu teman baik saya selalu mengeluh mengenai pekerjaan dia. Sudah beberapa kali dia pindah kerja dan setiap kali dia bekerja di tempat yang baru, dia selalu
mengeluhkan mengenai atasan atau rekan-rekan sekerjanya. Sebelum dia pindah ke pekerjaan berikutnya dia selalu ribut dengan atasan atau rekan sekerjanya. Seperti yang bisa kita lihat bahwa terbentuk suatu pola tertentu yang sudah dapat diprediksi, dia akan selalu pindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan berikutnya sampai dia belajar untuk tidak mengeluh.

Mengeluh adalah hal yang sangat mudah dilakukan dan bagi beberapa orang hal ini menjadi suatu kebiasaan dan parahnya lagi mengeluh menjadi suatu kebanggaan. Bila Anda memiliki dua orang teman, yang pertama selalu berpikiran positif dan yang kedua selalu mengeluh, Anda akan lebih senang berhubungan dengan yang mana? Menjadi seorang yang pengeluh
mungkin bisa mendapatkan simpati dari teman kita, tetapi tidak akan membuat kita memiliki lebih banyak teman dan tidak akan menyelesaikan masalah kita, bahkan bisa membuat kita kehilangan teman-teman kita.

Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa kita mengeluh? Kita mengeluh karena kita kecewa bahwa realitas yang terjadi tidak sesuai dengan harapan kita. Bagaimana kita mengatasi hal ini. Caranya sebenarnya gampang-gampang susah, kita hanya perlu bersyukur.

Saya percaya bahwa di balik semua hal yang kita keluhkan PASTI ADA hal yang dapat kita syukuri.
Sebagai ilustrasi, Anda mengeluh dengan pekerjaan Anda. Tahukah Anda berapa banyak jumlah pengangguran yang ada di Indonesia? Sekarang ini hampir 60% orang pada usia kerja produktif tidak bekerja, jadi bersyukurlah Anda masih memiliki pekerjaan dan penghasilan. Atau Anda mengeluh karena disuruh lembur atau disuruh melakukan kerja ekstra.
Tahukah Anda bahwa sebenarnya atasan Anda percaya kepada kemampuan Anda? Kalau Anda tidak mampu tidak mungkin atasan Anda menyuruh Anda lemburatau memberikan pekerjaan tambahan. Bersyukurlah karena Anda telah
diberikan kepercayaan oleh atasan Anda, mungkin dengan Anda lebih rajin siapa tahu Anda bisa mendapatkan promosi lebih cepat dari yang Anda harapkan.

Bersyukurlah lebih banyak dan percayalah hidup Anda akan lebih mudah dan keberuntungan senantiasa selalu bersama Anda, karena Anda dapat melihat hal-hal yang selama ini mungkin luput dari pandangan Anda karena Anda terlalu sibuk mengeluh.

Try it now:

  1. Bersyukurlah setiap hari setidaknya satu kali sehari. Bersyukurlah atas pekerjaan Anda, kesehatan Anda, keluarga Anda atau apapun yang dapat Anda syukuri. Ambilah waktu selama 10-30 detik saja untuk bersyukur kemudian lanjutkan kembali kegiatan Anda.
  2. Jangan mengeluh bila Anda menghadapi kesulitan tetapi lakukanlah hal berikut ini. Tutuplah mata Anda, tarik nafas panjang, tahan sebentar dan kemudian hembuskan pelan-pelan dari mulut Anda, buka mata Anda, tersenyumlah dan pikirkanlah bahwa suatu saat nanti Anda akan bersyukur atas semua yang terjadi pada saat ini.
  3. Biasakan diri untuk tidak ikut-ikutan mengeluh bila Anda sedang bersama teman-teman yang sedang mengeluh dan beri tanggapan yang positif atau tidak sama sekali. Selalu berpikir positif dan lihatlah perubahan dalam hidup Anda.
    “Semakin banyak Anda bersyukur kepada Tuhan atas apa yang Anda miliki, maka semakin banyak hal yang akan Anda miliki untuk disyukuri.”

Kiat Meningkatkan Rasa Percaya Diri

February 28, 2007

Setiap orang terlahir dengan segala kelebihan dan kekurangan. Jika Anda terlahir cakep, syukurilah, namun jika Anda terlahir jelek, syukurilah juga, karena masih ada banyak kelebihan di balik kejelekan paras Anda. Berikut delapan kiat meningkatkan rasa percaya diri bagi yang merasa dirinya jelek :D

- DONT JUDGE THE BOOK BY THE COVER
Jangan putus asa, tidak semua orang menilai manusia dari fisiknya, siapa tahu bisa dari rumahnya, mobilnya, pekerjaannya, atau tabungannya

- LIKE FATHER LIKE SON
Jangan salahkan diri kamu kalau kamu jelek, salahkanlah orangtuanya, karena jelek itu keturunan… iya kan??

- THE BEAUTY IS UNDER THE SKIN (Jadi cakep kalo uda ganti kulit)
Perbaiki inner beauty kamu, itu kalau ngerasa sisi luar kamu udah ancur gak ketolong lagi…

- NO GAIN WITHOUT PAIN
Maknanya: Jangan sakit hati kalo dikatain jelek, cuek aja, inget film Beauty and The Beast kan?

- JUST BEE YOURSELF
Jadilah diri kamu sendiri, kalau kamu jelek syukurilah soalnya kalo kamu ganteng pasti kamu bakal banyak dosanya hehehe…

- THE TRUTH IS OUT THERE
Kalau orang lain menilai kamu jelek, jangan diambil hati, penilaian manusia tidak selalu benar (maksudnya kamu sebenarnya lebih jelek lagi)

- THE RIGHT MAN IN THE WRONG PLACE
Cakep-jelek itu tergantung lingkungan, misalnya kamu di sini jelek tapi di Afrika bisa paling ganteng lho, makanya pindah ke sono aja hehehe…

- LOVE IS BLIND
Cinta tidak memandang cakep atau jelek, gak percaya? Tanyakan hal ini sama orang jelek…

Sewa Apartemen

February 28, 2007

Alkisah, ada Pria perlente yang kelihatannya kaya, mengajak seorang wanita cantik bermalam. Ia menjanjikan bayaran Rp.2 juta untuk kencan semalam.

Kesokan harinya si pria berubah pikiran. Ia mengaku tidak membawa uang cash sebanyak itu dan berjanji akan meminta sekretarisnya untuk mengirimkan cek sesegera mungkin. Untuk menghindari rasa malu, diatas cek tersebut dia tulis ‘untuk Pembayaran Apartemen’. Si wanita panggilan itu pun menyetujuinya.

Sesampai di kantor, setelah menimbang-nimbang pelayanan yang diterimanya semalam, si pria berubah pikiran lagi. Ia menulis Rp 1 juta di ceknya dengan menuliskan keterangan sebagai berikut :

“Ibu yang baik. Bersama ini saya sampaikan cek sebesar Rp.1 juta rupiah untuk sewa apartemen. Saya mohon maaf karena sewanya tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Ketika saya menyanggupi Rp. 2 juta rupiah. Saya pikir apartemennya belum pernah dipakai, Suhunya hangat, Ukuran nya lebih kecil. Ternyata,…. apa yang saya temukan, semalam adalah apartemennya tampaknya sudah sering dipakai, tidak cukup hangat dan ukurannya sangat luas”.

Setelah menerima cek tersebut, si wanita panggilan segera mengembalikannya dengan menyertakan keterangan sebagai berikut:

“Bersama ini saya kembalikan cek senilai Rp. 1 juta rupiah dari Bapak. Saya tidak habis pikir, bagaimana mungkin Bapak mengharapkan apartemen secantik itu, tidak pernah dipakai orang. Mengenai suhu, sebenarnya banyak kehangatan di apartemen tersebut seandainya saja Bapak cukup pintar mengatur pemanas ruangannya.

“Mengenai ukuran yang menurut bapak terlalu besar, itu bukan kesalahan saya. Bapak lah yang tidak mempunyai cukup perabotan untuk mengisi ruangan tersebut. Terima kasih dan mohon sesuatu yang sudah dijanjikan dapat segera dipenuhi sebelum hal ini menjadi berita di koran lokal terkenal. Salam dari pemilik apartemen”.

Kami berikan yang Terbaik (Terbaik Menurut Siapa?)

February 27, 2007

Pada umumnya, (walaupun tidak semua) orangtua mengklaim telah memberikan yang terbaik untuk anak. Bagi kalangan orangtua berada, yang dimaksud dengan terbaik berkaitan dengan fasilitas-fasilitas, seperti mobil, kamar mewah, sekolah bergengsi, uang jajan berlimpah, kursus, jalan-jalan ke luar negeri, dan lain-lain.

Pokoknya, semua yang serba OK. Namun, di sinilah letak permasalahannya. Karena serba berlebihan atau mewah, anak cenderung menganggap hidup memang harus selalu serba-enak. Hal itu menjadikannya manja dan tidak pernah mengenal kata prihatin. Padahal, untuk membuat anak tumbuh menjadi lebih tegar, sabar dan tahu diri, sesekali diperlukan hal-hal yang kurang enak atau kurang nyaman. Paling tidak, anak harus selalu diingatkan dan dibuat merasakan bahwa di luar sana (di dunia ini) segala sesuatu membutuhkan perjuangan atau usaha. Tidak ada yang gratis.

Setelah lulus sekolah dan mulai bekerja, anak yang biasa dimanjakan dengan kemewahan akan mengalami kesulitan bersaing dengan anak dan keluarga biasa-biasa atau kurang mampu yang sedari kecil sudah ditempa keprihatinan, hidup keras, dan harus selalu berjuang. Mental kurang tegar dan gampang kecewa, anak yang biasa dimanjakan bisa membuatnya kalah bersaing dengan anak yang kurang mampu.

Sebenarnya tidak ada salahnya menjadi kaya atau mampu. Bahkan harus diakui kalau, secara koneksi, anak orang berada jauh lebih beruntung. Namun, yang tidak ada dalam dirinya adalah fighting spirit atau semangat juang.
Karena sudah terbiasa serba ada, serba enak, semua telah disiapkan, tidak pernah terpikir olehnya untuk berjuang mendapatkan sesuatu.

Sekarang, coba andaikan kita mengalami hal itu. Kalau semua yang kita inginkan telah tersedia, apakah kita akan bekerja lebih keras dan berjuang terus? Atau sebaiknya menikmati saja apa yang sudah ada? Rasa-rasanya, kebanyakan orang akan menikmati apa yang sudah ada. Ada pepatah yang berbunyi: “Manusia harus terpeleset. baru akan termotivasi untuk berbuat lebih baik”. Namun, bagaimana anak orang kaya bisa termotivasi kalau ia menyadari bahwa dirinya sudah berkecukupan? Bagaimana membuat anak tetap termotivasi untuk selalu ingin maju atau mencapai lebih banyak daripada sekarang, walaupun sudah memiliki segala-galanya? Nah, di sinilah kuncinya: batlah ia menjadi terpaksa.

Caranya gampang saja. Setelah lulus sekolah biarkan ia mencari naflah sendiri. Ia harus dipaksa untuk hidup dari pendapatan sendiri, karena itulah satu-satunya cara supaya ia melihat sendiri, mampukah ia survive tanpa orangtua. Masalahnya, orangtua tega atau tidak.

Kadang, orangtua sendiri yang tidak tega melepas anaknya mandiri, hidup dari penghasilannya sendiri. Atau, sering juga terjadi, setelah lulus sekolah dan bekerja dengan gaji 3 juta rupiah misalnya, si anak disuruh menikah dan berkeluarga, lalu tinggal di rumah mewah pemberian orangtua (mertua) dengan biaya hidup antara 5-7 juta rupiah sebulan. Untuk membayar biaya hidup itu, orangtua tiap bulan masih memberikan uang.

Pertanyaannya, apakah si anak merasa bahagia dengan “pemberian terbaik” orangtua ini, atau sebaliknya?

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.