Pada umumnya, (walaupun tidak semua) orangtua mengklaim telah memberikan yang terbaik untuk anak. Bagi kalangan orangtua berada, yang dimaksud dengan terbaik berkaitan dengan fasilitas-fasilitas, seperti mobil, kamar mewah, sekolah bergengsi, uang jajan berlimpah, kursus, jalan-jalan ke luar negeri, dan lain-lain.
Pokoknya, semua yang serba OK. Namun, di sinilah letak permasalahannya. Karena serba berlebihan atau mewah, anak cenderung menganggap hidup memang harus selalu serba-enak. Hal itu menjadikannya manja dan tidak pernah mengenal kata prihatin. Padahal, untuk membuat anak tumbuh menjadi lebih tegar, sabar dan tahu diri, sesekali diperlukan hal-hal yang kurang enak atau kurang nyaman. Paling tidak, anak harus selalu diingatkan dan dibuat merasakan bahwa di luar sana (di dunia ini) segala sesuatu membutuhkan perjuangan atau usaha. Tidak ada yang gratis.
Setelah lulus sekolah dan mulai bekerja, anak yang biasa dimanjakan dengan kemewahan akan mengalami kesulitan bersaing dengan anak dan keluarga biasa-biasa atau kurang mampu yang sedari kecil sudah ditempa keprihatinan, hidup keras, dan harus selalu berjuang. Mental kurang tegar dan gampang kecewa, anak yang biasa dimanjakan bisa membuatnya kalah bersaing dengan anak yang kurang mampu.
Sebenarnya tidak ada salahnya menjadi kaya atau mampu. Bahkan harus diakui kalau, secara koneksi, anak orang berada jauh lebih beruntung. Namun, yang tidak ada dalam dirinya adalah fighting spirit atau semangat juang.
Karena sudah terbiasa serba ada, serba enak, semua telah disiapkan, tidak pernah terpikir olehnya untuk berjuang mendapatkan sesuatu.
Sekarang, coba andaikan kita mengalami hal itu. Kalau semua yang kita inginkan telah tersedia, apakah kita akan bekerja lebih keras dan berjuang terus? Atau sebaiknya menikmati saja apa yang sudah ada? Rasa-rasanya, kebanyakan orang akan menikmati apa yang sudah ada. Ada pepatah yang berbunyi: “Manusia harus terpeleset. baru akan termotivasi untuk berbuat lebih baik”. Namun, bagaimana anak orang kaya bisa termotivasi kalau ia menyadari bahwa dirinya sudah berkecukupan? Bagaimana membuat anak tetap termotivasi untuk selalu ingin maju atau mencapai lebih banyak daripada sekarang, walaupun sudah memiliki segala-galanya? Nah, di sinilah kuncinya: batlah ia menjadi terpaksa.
Caranya gampang saja. Setelah lulus sekolah biarkan ia mencari naflah sendiri. Ia harus dipaksa untuk hidup dari pendapatan sendiri, karena itulah satu-satunya cara supaya ia melihat sendiri, mampukah ia survive tanpa orangtua. Masalahnya, orangtua tega atau tidak.
Kadang, orangtua sendiri yang tidak tega melepas anaknya mandiri, hidup dari penghasilannya sendiri. Atau, sering juga terjadi, setelah lulus sekolah dan bekerja dengan gaji 3 juta rupiah misalnya, si anak disuruh menikah dan berkeluarga, lalu tinggal di rumah mewah pemberian orangtua (mertua) dengan biaya hidup antara 5-7 juta rupiah sebulan. Untuk membayar biaya hidup itu, orangtua tiap bulan masih memberikan uang.
Pertanyaannya, apakah si anak merasa bahagia dengan “pemberian terbaik” orangtua ini, atau sebaliknya?